google-site-verification=vPNmk_gAkH4QjBYcT5qlXQQihAeYK0QhhybUOmS39S0
Kaleng Kerupuk Mini - Cetakan Kue - Aneka Loyang - Klakat / Kukusan - Kotak Surat - Standing Ashtray - Ember Mini - Peralatan Dapur - Perlengkapan Kantor - Perlengkapan Rumah
Beranda » Artikel » Filosofi Kolak Pisang

Filosofi Kolak Pisang

Diposting pada 14 May 2019 oleh admin | Dilihat: 17 kali

Menjelang bulan Ramadan, biasanya kudapan buka puasa yang langsung terlintas di benak kita adalah kolak pisang. Karena rasanya begitu enak, kolak pisang pun selalu jadi favorit saat bulan puasa. Cita rasanya yang manis menjadikannya kudapan yang tepat untuk berbuka puasa. Rasa manis ini datang dari gula yang digunakan sebagai salah satu bahan pembuatnya. Kandungan gula pada kolak ampuh untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa. Maka, tak heran kalau kolak selalu ada di bulan Ramadan. Sudah tahu belum mengenai sejarah kolak pisang?

Pernah terpikir ngga dari mana datangnya nama “kolak”? Ternyata, penamaan kolak tidak sembarangan. Ada filosofinya. Nama kolak diambil dari kata “Khalik” yang artinya Tuhan, pencipta alam semesta, yaitu Allah SWT. Jika dilihat dari sejarahnya, filosofi ini ada hubungannya dengan penyebaran Islam di Indonesia.

Kolak Pisang

Kemudian, isian kolak juga memiliki makna. Kolak yang menggunakan isian pisang kepok mengacu pada istilah “kapok”. Harapan yang terkandung di dalamnya ialah masyarakat kapok, tidak ingin berbuat dosa lagi serta segera bertobat kepada Allah SWT. Pernah menjumpai kolak dengan isian ubi? Nah, ubi yang tumbuh dengan kondisi terkubur di dalam tanah memiliki filosofi masyarakat harus mengubur kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan.

Saat Islam belum dikenal di kalangan masyarakat Jawa, para ulama menggunakan kolak sebagai media penyebaran Islam di Indonesia, khususnya Pulau Jawa. Semula kolak hanya disajikan satu bulan menjelang Ramadan, yaitu Sya’ban. Pada bulan ini masyarakat diajak lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sambil menyiapkan diri menyambut Ramadan. Lama kelamaan, tradisi mengonsumsi kolak berlanjut ke Ramadan dengan menyajikannya sebagai kudapan buka puasa. Dan tetap bertahan hingga sekarang.

Kolak Pisang dan Labu

Lantas, dari manakah asalnya kolak? Karena bercita rasa manis, kolak seringkali disangka berasal dari Pulau Jawa. Faktanya, asal muasal kolak ini masih simpang siur. Namun, sejumlah pakar kuliner menduga kolak berasal dari Timur Tengah. Mirip seperti di Jawa, masyarakat Timur Tengah ternyata menyukai hidangan bercita rasa manis.

Bahkan, di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Singapura juga ada makanan seperti kolak yang menggunakan santan. Kini, kolak pun memiliki berbagai variasi dalam hal isi, seperti kolang-kaling, durian, cendol, atau dawet. Dalam pembuatannya, kolak biasanya ditambahkan garam untuk menambahkan rasa gurih. Juga ada daun pandan agar aromanya lebih harum.

 

Bagikan informasi tentang Filosofi Kolak Pisang kepada teman atau kerabat Anda.

Filosofi Kolak Pisang | Kampung Kaleng

Belum ada komentar untuk Filosofi Kolak Pisang

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
QUICK ORDER
Kaleng Kerupuk Mini Edisi Imlek Ukuran 11 x 13

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 25.000
Ready Stock / KK18
QUICK ORDER
Talenan Kayu Bulat – Gagang Kecil

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 9.500
Ready Stock
QUICK ORDER
Kaleng Kerupuk Mini Karakter Cars Set

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 80.000
Ready Stock / KK12
Rp 80.000
Ready Stock / KK12
SIDEBAR

Kampung Kaleng:

Kamurang RT 02/07 No. 5 Puspasari Citeureup Bogor 16810

EMAIL:

Email: admin@kampungkaleng.com
Website: www.kampungkaleng.com

CUSTOMER SERVICE:

081392660009 (Whatsapp + Telp.)
087884888909 (Whatsapp)
08159029109 (Whatsapp + Telp.)